Setiap tahun, momen Lebaran selalu menjadi periode emas bagi Industri film Indonesia. Bukan hanya satu atau dua judul. tetapi deretan film dari berbagai genre mulai dari horor, drama keluarga, komedi, romansa hingga animasi berbondong-bondong tayang di bioskop pada waktu yang hampir bersamaan. Fenomena ini menimbulkan satu pertanyaan menarik, apakah ini kebetulan atau emang strategi marketing yang disengaja?

Lebaran sebagai “Peak Season” Perfilman Indonesia

Lebaran telah lama dimanfaatkan sebagai momentum strategis karena bertepatan dengan libur panjang, tradisi mudik, dan kebiasaan berkumpul bersama keluarga. Aktivitas menonton film di bioskop kemudian menjadi bagian dari ritual liburan itu sendiri. Tak heran jika periode ini konsisten menyumbang angka penonton yang signifikan setiap tahunnya.

Data beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang sama. Pada Lebaran 2022, KKN di Desa Penari mencetak lebih dari 10 juta penonton hingga Lebaran 2025 film Jumbo menjadi film Indonesia terlaris yang rilis saat lebaran dengan mencapai 10,2 Juta penonton dalam penayangannya. Secara historis, film yang rilis saat Lebaran bahkan bisa menyumbang sekitar 20–30 persen total penonton tahunan bioskop.

Strategi Bukan Hanya di Tanggal, Tapi di Persaingan Layar

Menurut pelaku industri, ketatnya persaingan film Lebaran bukan semata karena banyaknya judul yang rilis, melainkan karena jumlah layar bioskop yang relatif tetap. Artinya, film bukan hanya bersaing untuk tayang, tetapi juga untuk mempertahankan layar.

Di sinilah strategi marketing berperan besar. Menurut APFI, film yang memiliki performa terbaik saat Lebaran memiliki 3 faktor krusial:

  1. Pre-release awareness
  2. Performa 3-4 hari pertama
  3. Word-of-Mouth & buzz di media sosial

Film yang rilis saat Lebaran hari memiliki kombinasi antara strategi sebelum rilis dan pengelolaan hype setelah tayang.

Kenapa Semua Genre Ikut “Turun Gunung”?

Lonjakan penonton bioskop saat Lebaran tidak hanya dipicu oleh faktor budaya dan tradisi, tetapi juga oleh kondisi ekonomi musiman yang unik. Periode Idul fitri identik dengan:

  • Pencairan THR, yang meningkatkan daya beli masyarakat dalam waktu singkat
  • Libur panjang, yang menciptakan lebih banyak waktu luang
  • Mobilitas sosial tinggi, di mana keluarga dari berbagai daerah berkumpul di kota yang sama

Kombinasi ini menciptakan apa yang dalam marketing dikenal sebagai high-intent consumption period fase di mana konsumen lebih siap secara mental dan finansial untuk membelanjakan uang pada pengalaman hiburan, termasuk menonton film di bioskop.

Film Terlaris Tidak Selalu Lahir dari Musim Lebaran

Baru-baru ini, sejarah perfilman Indonesia juga menunjukkan bahwa film dengan jumlah penonton tertinggi justru bisa lahir di luar musim Lebaran.

Contohnya, Agak Lain 2, yang dirilis pada bulan November tahun lalu yaitu periode libur akhir tahun berhasil melampaui banyak film Lebaran dan kini tercatat sebagai film Indonesia terlaris saat ini.

Keberhasilan ini menegaskan bahwa:

  • Timing memang penting
  • Tapi kekuatan IP, word-of-mouth, dan relevansi cerita bisa mengalahkan faktor musiman

Jadi, Strategi Marketing atau Sekadar Tradisi?

Jawabannya yaitu keduanya. Tradisi menonton film saat Lebaran memang sudah mengakar, tetapi industri secara sadar memaksimalkan momen ini melalui strategi rilis, pemilihan genre, hingga pengelolaan hype. Lebaran bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan momentum emosional dengan traffic audiens tinggi.

Ke depan, tantangannya bukan lagi soal apakah film harus dirilis saat Lebaran, melainkan bagaimana memaknai momen ini secara lebih luas. Jika seasonal marketing hanya dimanfaatkan untuk mengulang formula yang sama, ia berisiko stagnan. Namun jika diperlakukan sebagai ruang eksplorasi baik genre maupun narasi, film Lebaran bisa berkembang menjadi fenomena budaya yang lebih inklusif, seperti halnya film Natal di pasar global.