Kabar kembalinya Chris Evans ke Marvel Cinematic Universe (MCU) lewat Avengers: Doomsday langsung memicu kegaduhan di media sosial. Padahal, jika melihat alur cerita, karakter Steve Rogers sudah mendapatkan penutup yang sangat final di Avengers: Endgame (2019). Ia mengembalikan Infinity Stones, memilih hidup tenang, dan menyerahkan tameng Captain America ke generasi berikutnya.

Secara naratif, kisahnya sudah selesai. Lalu pertanyaannya, kenapa Marvel membawanya kembali? Jawabannya kemungkinan besar bukan soal cerita, melainkan strategi marketing.

Nostalgia sebagai Mesin Hype Marvel

Marvel paham betul bahwa fase pasca-Endgame tidak semulus yang diharapkan. Banyak penonton merasa kehilangan ikatan emosional dengan karakter-karakter baru. Di titik ini, nostalgia menjadi aset paling kuat yang dimiliki Marvel.

Menghadirkan kembali Chris Evans bukan sekadar fan service. Ini adalah bentuk emotional recall marketing strategi yang memancing ingatan emosional audiens terhadap momen-momen paling ikonik MCU. Reaksi fans yang campur aduk, dari marah hingga menangis, justru membuktikan satu hal, keterikatan emosional itu masih sangat hidup.

Dari sudut pandang marketing, emosi ekstrem adalah bahan bakar viral terbaik.

Teaser Bocor, Tapi Tetap Menguntungkan

Cuplikan pertama Avengers: Doomsday sejatinya hanya diputar eksklusif di bioskop sebagai bagian dari strategi theatrical marketing Marvel, disandingkan dengan Avatar: Fire and Ash. Namun seperti yang sering terjadi, teaser tersebut bocor dan menyebar luas di internet. Alih-alih merugikan, kebocoran ini justru memperluas jangkauan kampanye. Tiga teaser karakter Steve Rogers, Thor, dan Victor von Doom menciptakan diskusi berlapis di media sosial. Marvel kembali mempraktikkan mystery marketing, dengan menampilkan cukup banyak petunjuk tanpa memberikan konteks cerita utuh.

Strategi ini konsisten dengan pola lama Marvel yaitu membuat audiens berspekulasi, berdebat, dan secara sukarela mempromosikan filmnya.

Chris Evans sebagai Marketing Asset, Bukan Sekedar Aktor

Dalam ekosistem Marvel, aktor bukan hanya pemeran karakter, tetapi juga brand ambassador. Chris Evans membawa pengaruh lintas generasi, lintas fandom, bahkan menjangkau penonton yang sudah mulai menjauh dari MCU. Kehadirannya otomatis:

  • Mengaktifkan kembali fanbase lama
  • Menarik perhatian audiens yang skeptis terhadap fase baru MCU
  • Memperluas jangkauan promosi melalui percakapan organik di media sosial

Ini selaras dengan strategi influencer marketing Marvel yang sudah lama berjalan: memanfaatkan social capital para pemain dan fandom untuk menciptakan hype berantai, jauh melampaui iklan konvensional.

Bukan Sekadar Cerita, tapi Strategi Marketing Jangka Panjang Marvel

Di balik keputusan menghadirkan kembali karakter lama, Marvel menjalankan strategi marketing yang konsisten dan terukur, antara lain:

  • Long term brand building melalui film, serial, merchandise, spin-off, hingga karakter legacy yang terus dihidupkan ulang
  • Emotional cross-selling lewat nostalgia dengan menghadirkan Chris Evans dan Robert Downey Jr. (sebagai Victor von Doom)
  • Buzz-driven marketing lintas platform sebelum rilis
  • Storytelling dan marketing berjalan beriringan

Dalam konteks Avengers: Doomsday, keputusan ini mungkin terasa membingungkan secara naratif, tetapi sangat masuk akal secara marketing yaitu menghidupkan kembali percakapan, memulihkan kepercayaan audiens terhadap MCU, dan menjaga relevansi brand di tengah persaingan konten yang semakin padat. Pada akhirnya, Marvel kembali membuktikan bahwa dalam dunia marketing, yang paling efektif bukan selalu hal baru, melainkan cerita lama yang dikemas ulang dengan cerdas.