Di era digital, audiens semakin kebal terhadap iklan konvensional. Konten yang terlalu “jualan” justru mudah di-skip. Karena itu, banyak brand mulai mengandalkan User-Generated Content (UGC) sebagai strategi soft selling yang terasa lebih natural, humanis dan mudah diterima. Dua contoh menarik datang dari Laundry Majapahit yang ternyata bagian dari campaign brand RINSO.

Laundry Majapahit, UGC yang Disusun Rapi tapi Terasa Nyata

Konten Laundry Majapahit menampilkan sosok Bu Yati yang menjual fasilitas untuk mencuci pakaian secara tradisional menggunakan papan cuci dan deterjen Rinso. Visualnya sederhana, narasinya tenang ditambah dengan nuansa yang kental dengan nostalgia. Di tengah kehidupan serba instan dan digital, konten ini justru memberi rasa “healing” dan kebersamaan yang dekat dengan pengalaman banyak orang Indonesia.

Menariknya, konten ini terlihat seperti UGC organik, padahal ini adalah bagian dari strategi pemasaran Rinso yang dirancang dengan matang. Dengan pendekatan storytelling yang sengaja dibuat natural, bahkan sedikit absurd, Rinso berhasil membangun koneksi emosional tanpa terlihat memaksa menjual produk.

Adaptasi Brand terhadap Perilaku Konsumen Digital

Perilaku konsumen digital saat ini cenderung mencari konten yang jujur, relatable dan punya nilai emosional. Campaign Laundry Majapahit menjawab hal-hal tersebut dengan mengangkat budaya lokal dan pengalaman sehari-hari sebagai inti cerita. Format video pendek di di TikTok mempercepat penyebaran konten dan membuat pesan lebih mudah diingat. Namun, strategi Rinso tidak berhenti pada viralitas semata. Brand ini juga mengoptimalkan berbagai touchpoint, mulai dari engagement di media sosial, edukasi produk hingga integrasi promosi online dan offline. Hasilnya, konten tidak terasa seperti iklan, tetapi tetap mendorong awareness, trust dan keputusan membeli.

UGC, Soft Selling dan Penguatan Brand Trust

Salah satu kekuatan utama Laundry Majapahit adalah kemampuannya membangun kepercayaan audiens. Konten yang menyenangkan sekaligus informatif ini mendorong aksi pembelian tanpa kesan over-promosi. Rinso tampil sebagai brand modern yang tetap menghargai tradisi dan budaya lokal.

Penggunaan UGC yang dikemas secara halus membuat audiens lebih percaya, karena secara psikologis, konsumen cenderung lebih menerima konten yang terlihat alami dibanding iklan terang-terangan. Inilah yang akhirnya memperkuat brand trust dan loyalitas jangka panjang.

Fenomena Konten Viral Sederhana yang Menguatkan Brand Awareness

Prinsip UGC yang sama juga bisa dilihat dari fenomena viral lain di TikTok, seperti konten Pop Ice dengan konsep “Rapunzel”. Tanpa produksi besar dan tanpa klaim iklan yang jelas, konten sederhana tersebut mampu menarik perhatian luas karena mengandalkan gimmick unik, persona yang kuat, dan elemen nostalgia.

Ketidakpastian apakah konten tersebut benar-benar jualan atau sekadar hiburan justru memicu rasa penasaran dan interaksi. Audiens terhibur, berkomentar, dan secara tidak langsung kembali mengingat Pop Ice sebagai brand yang sudah lama hadir dalam kehidupan mereka. Ini menunjukkan bahwa familiarity effect dan storytelling ringan bisa menciptakan awareness besar tanpa hard selling.

UGC Marketing untuk Brand dan UMKM

Baik melalui kampanye terstruktur seperti Laundry Majapahit maupun konten viral sederhana ala Pop Ice Rapunzel, ada beberapa hal yang bisa dipelajari:

  • Kreativitas tidak harus mahal, ide sederhana bisa berdampak besar
  • Storytelling lebih efektif daripada promosi langsung
  • Keaslian adalah kunci, audiens cepat menyadari konten yang dibuat-buat

UGC memungkinkan brand tampil lebih manusiawi dan relevan, terutama bagi audiens muda yang mengutamakan kejujuran dan kedekatan emosional.