Kenali Perbedaan Reseller dan Dropshipper | SevenAds

Reseller dan dibedakan memalui cara kerja mereka. Reseller bisa dibilang seperti pedagang dimana para reseller harus membeli terlebih dahulu barang dangangannya kepada supplier sehingga reseller memperoleh barang dagangannya dari supplier atau distributor. Setelah mendapatkan barang dengan jumlah yang sudah ditentukan baru reseller menjualnya.

Sedangkan dropshipper menawarkan barang ke konsumen terlebih dahulu tanpa mengeluarkan model sepersenpun kemudian jika mendapatkan order dari konsumen. Seorang dropshiper diteruskan melalui supplier atau distributor yang nantinya supplier atau distributor yang akan menerima order dan mengirimkan barang ke konsumen. Hal seperti ini banyak sekali dilakukan di bidang fashion (pakaian). 

Perbedaan reseller dan dropshipper pada modal

Kalau ditanya mana yang mengeluarkan modal minim, jawabannya adalah dropshipper. Mengapa? 

Pasalnya, dropshipper tidak harus membeli barang supaya bisa menjual. Cukup modal pulsa, paket data dan informasi, pekerjaan ini udah bisa dilakukan.

Sementara itu, jadi reseller harus mengeluarkan modal karena harus membeli barang terlebih dahulu. Besarnya modal menentukan jumlah barang yang kalian dapat. 

Selain itu, modal seperti pulsa, paket data, dan ongkos transportasi juga dihitung. Biaya-biaya itu termasuk dalam biaya operasional kantor.

Berbicara profit, lebih untung mana?

Ditanya soal ini, jelas lebih untung reseller. Mengapa? Sebab, bisa mendapat barang dengan harga termurah dan mengatur harga jual sekehendaknya. Di situ, dia dapat untung yang bisa aja besar.

Lain cerita kalau kalian menjadi dropshipper. Sulit bagi dropshipper mendapat untung sebesar reseller. Pasalnya, order yang diberikan dropshipper masih kalah banyak dengan pembelian reseller.

Karena itu, reseller bisa mendapat harga barang dari supplier lebih murah ketimbang dropshipper. Di sinilah mereka bisa menentukan berapa keuntungan yang pengin didapatnya.

Risiko yang ditanggung

Bekerja sebagai reseller atau dropshipper bukan berarti tanpa risiko. Ada sejumlah konsekuensi yang akan dialami menjalani kedua pekerjaan tersebut.

Meski terlihat gampang, menjadi dropshipper nyatanya ada kekurangannya juga. Sekadar diketahui, namanya barang gak selamanya selalu tersedia di supplier

Di sinilah pesanan yang datang mau gak mau harus kalian tolak karena tidak ada ketersediaan barang. Kalau sudah begini kalian tidak dapat pemasukan.

Ujung-ujungnya, seandainya barang kosong lama, kalian harus berhenti sementara berdagang hingga stok barang terisi kembali. 

Untuk risiko dari reseller, pastinya udah bisa kalian bayangkan. Misalnya, banyak barang yang gak laku terjual, udah pasti mereka mengalami kerugian. Mau gak mau nih barang yang tersisa dijual rugi daripada gak laku sama sekali.

Pelayanan ke konsumen

Reseller dan dropshipper juga berbeda dalam cara memberikan pelayanan ke konsumen. Kalau reseller, begitu terima order bakal lakukan pengemasan dan mengirim barangnya sendiri. Jadi, biaya pengemasan dan pengiriman menjadi tanggungannya.

Sementara itu, kalau jadi dropshipper, kamu cuma menyampaikan pesanan kepada supplier. Urusan pengemasan dan pengiriman menjadi tanggungan supplier. Dengan begitu, kalian gak usah memikirkan biaya pengemasan dan pengiriman.

baca juga https://www.sevenads.id/tips-and-trick-menjadi-reseller-yang-sukses-ketahuilan-5-cara-ini/

%d bloggers like this: